Oleh : Abdul Jamil Al Rasyid (Mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Unand)
Marah merupakan suatu perasaan yang amat sering dilakukan oleh seseorang, baik terhadap teman, sahabat maupun lainnya (pengertian marah menurut KBBI).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata marah adalah sangat tidak senang (karena dihina, diperlakukan tidak sepantasnya dan sebagainya. Setiap manusia memiliki amarah. Marah menurut Al Qu’ran berasal dari setan oleh karena itu sesuai dengan Hadist Nabi mengatakan bahwa Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.” (HR Ahmad dan Bukhari). Hal ini tentu menjadikan marah sebagai andil yang sangat besar terhadap diri seorang. Karena hal ini akan membuat setiap orang tentu memiliki amarah tersendiri terhadap dirinya maupun ke orang lain.
Sifat marah tentu beraneka ragam penyebabnya mulai dari orang lain, binatang, diri sendiri. Setiap orang tentu berbeda-beda dalam melampiaskan amarahnya. Misalnya saja bisa dengan menghardik, menendang, memukul dan lain sebagainya. Hal ini tentu bisa jadi bumerang bagi setiap orang yang marah, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Begitu juga sebaliknya maka hal ini sangat tergantung bagaimana sikap dari seseorang tersebut.
Tetapi sesuai dengan hadis Nabi Muhammad Saw tadi mengatakan sebaik-baik orang marah adalah diam. Maka hal ini tentu menjadi pelajaran tersendiri bagi kita khususnya umat islam karena marah disini dapat diredam dengan diam, barangsiapa yang bisa mengendalikan emosinya maka dia adalah orang yang baik dalam melawan setan. Sifat marah tentu dibarengi dengan sifat sabar karena diam disini adalah sebuah kesabaran yang amat besar karena seseorang sedang marah, maka dia memilih diam, dia adalah orang yang sangat sabar terhadap sesuatu.
Berhubungan dengan pengarang, pengarang ialah orang yang senang menulis hal ini tentu menjadi sebuah keterkaitan antar emosi seorang pengarang dengan apa yang ditulisnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap pengarang yang marah maka ia akan marah melalui tulisan-tulisan nya. Misalnya seorang pengarang marah terhadap orang lain dia tidak sungkan-sungkan mengatakan dalam tulisannya tentang perasaannya. Hal ini tentu membuat sebuah imajinas baru bagi pengarang, ada du aspek yang didapat ketika seorang pengarang marah
- Aspek Negatif
Hal ini berkaitan dengan marahnya seorang pengarang dan tentunya pengarang tersebut bisa saja merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Emosi yang tidak bisa dikontrol ini membuat seorang pengarang tentu harus meredam secepatnya, kalau tidak masalah yang ditimbulkan akan semakin banyak. Hal negatif ini perlu kita hindari karena setiap hal negatif tentu lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya.
- Aspek positif
Kenapa penulis berani mengatakan bahwa pengarang marah tentu positif karena setiap pengarang marah yang menuangkan masalahnya dalam tulisannya maka hal ini tentu berdampak positif. Hal ini tentu tidak semua pengarang yang melampiaskan kemarahaannya ke hal yang positif. Dampak positif disini apabila seseorang menuangkan tulisannya ke dalam majalah, surat kabar dan lain sebagainya. Maka dia akan semakin terkenal, semakin kaya, banyak hal yang dapat dituangkan pengarang melalui kemarahan tersebut kedalam tulisan. Media untuk melampiaskan marah ke tulisan tentu baik bagi seorang pengarang. Bagaimana tidak, setiap peristiwa yang dialami pengarang dan dituangkan kedalam tulisannya maka dia akan semakin terkenal. Semakin banyak pengalaman dan semakin tajam pengamatan seorang pengarang maka pengarang tersebut semakin aktif dalam menulis.
Menurut hemat penulis segala hal peristiwa yang terjadi oleh pengarang baik marah, suka duka, kecewa bisa dituangkan lewat tulisan misalnya cerpen, novel, artikel dan lain sebagainya. Hal ini tentu sesuai juga dengan kehidupan pengarang tersebut. Kita sebagai pengarang tentu sebelum menulis tentu kita mengamati dulu sesudah itu baru kita rasakan dan tuangkan kedalam tulisan kita. Menulis bagi hemat penulis hampir sama dengan berpidato di depan umum bedanya satu melalui suara dan yang satu melalui ketikan. Pidato/ceramah bisa saja kita menuangkan amarah kita disana(tempat umum) begitu juga dengan menulis, kita bisa menuangkan perasaan kita, marah kita, sedih kita melalui tulisan. Maka kemarahan seorang penulis tentu dituangkan dengan tulisannya.
Penulis adalah Abdul Jamil Al Rasyid Mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Unand angkatan 2019 berdomisili di Padang Pariaman Santri Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Nurul Ikhlas Patamuan Tandikek (**).




Discussion about this post